Dalam konteks penelitian, "hasil positif palsu/keliru" merujuk pada situasi di mana pengujian menunjukkan adanya suatu kondisi ketika sebenarnya kondisi tersebut tidak ada. Sebagai contoh, dalam konteks medis, jika pengujian menunjukkan bahwa individu tersebut menderita suatu penyakit (hasil menunjukkan positif), namun pada kenyataannya individu tersebut tidak menderita penyakit tersebut, ini disebut sebagai "hasil palsu". Hal ini dapat menimbulkan masalah, misalnya menimbulkan kecemasan yang tidak perlu dan perawatan yang tidak diperlukan.

"Hasil positif palsu," yang sering kali diterjemahkan sebagai "hasil positif yang tidak akurat," adalah suatu tantangan dalam dunia penelitian. Hal ini terjadi ketika suatu pengujian atau analisis menunjukkan hasil positif, padahal pada kenyataannya tidak ada efek, kondisi, atau kejadian yang sebenarnya sedang diuji. Seperti alarm kebakaran yang berbunyi meskipun tidak ada api, hasil yang menyesatkan dapat mengecoh peneliti dan berakhir pada kesimpulan yang tidak benar.

Berikut beberapa konsekuensi dari ditemukannya positif palsu dalam penelitian:

Bagaimana cara mencegah positif palsu?