Berkaitan dengan peringkat universitas, saya hanya mengingat pengalaman waktu kecil. Rapor saya dibandingkan dengan kawan oleh orang tuanya. Ketika rapor saya dibandingkan dengan rapor kawan yang lebih tinggi, saya akan marah. Ketika ada kawan saya rapotnya dibandingkan dengan rapor saya yang kebetulan lebih tinggi, giliran dia yang marah.
Jadi kehidupan kami, anak-anak SD-SMA kala itu, mulai keringetan dan secara fisik terganggu ketika masuk ke masa penilaian. Sering sekali saya sangat marah sekali dengan orang tua saya, ketika mereka tidak berhenti membandingkan nilai saya. Tapi ya marahnya tidak ekspresif. Tahukan bagaimana orang tua zaman dulu menangani anak-anak yang marah. Bukannya didengar, malah mungkin digasak. Hal yang sama terjadi dengan kawan-kawan saya, secara acak ya. Bukan hanya kawan-kawan sepermainan.
Pilihan saya untuk kuliah di Bandung dan bukan Surabaya, sebagian besar karena saya ingin sejauh mungkin dari orang tua saya supaya tidak lagi dibanding-bandingkan. Alhamdulillah hubungan tidak makin memburuk, tapi membaik, ketika saya bisa menerima. Tapi dalam hatinsaya berjanji untuk tidak mengulang hal yang sama ke anak saya nanti.
Reaksi yang lain berkebalikan, cuek sekali. Terlepas dari rapornya bagus atau tidak, mereka cuek sampai tidak berekspresi ketika orang tuanya mulai membandingkan rapor mereka. Reaksi mereka biasanya, "Yeah, memang lebih baik. Lantas apa?"
<aside> 💡 Ketika dia habis ujian, saya cukup tanya, "bagaimana tadi? bisa". "Belajarnya pas dengan yang soal yang keluar?"
</aside>
Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi setelah masalah sekolah itu lewat, saya merasa, prestasi anak akan jadi bagus kalau kondisinya gembira/bahagia. Jadi bukan pemeringkatan yang membuat kami bahagia saat itu. Tapi karena kami bahagia, maka kami merasa bisa belajar apapun. Itu kenapa prestasi kemudian jadi meningkat, tanpa harus disengaja atau ditargetkan.
Banyak kawan saya dulu sudah ikut les ini, les itu, tapi kalau dilihat dari peringkatnya, tidak naik-naik. Sementara tidak sedikit kawan saya yang hidupnya terhitung santai hidupnya, peringkatnya malah stabil di top 10. Tapi jelas juga ada kawan yang ikut banyak les dan prestasinya melejit, bila dilihat dari peringkatnya.
Karena itu, ketika saat ini saya punya anak, saya dan istri sepakat untuk tidak pernah menanyakan nilai ujian kepada anak saya. Ketika dia habis ujian, saya cukup tanya, "bagaimana tadi? bisa". "Belajarnya pas dengan yang soal yang keluar?"
Maka anak saya justru akan mengoceh tentang pengalamannya ikut ujian. Dia sendiri yang bilang, mestinya begini, mestinya begitu, dst. Saya hanya bilang, "belajar rajin lebih penting dari ujiannya".
Saat dulu sebelum pandemi, setiap hari yang kami tanya ke anak adalah "apakah kamu senang tadi di sekolah". Pertanyaan yang sama kami lontarkan ketika tidak ujian, pas ujian, atau pas terima rapor. Ketika terima rapor, anak saya justru yang menanyakan bagaimana rapor kawannya, lebih bagus atau lebih buruk. Nah untuk ini kami sangat tertolong, karena sistem pendidikan dasar sampai menengah hari ini tidak menilai dengan angka. Kami hanya menerima kemajuan belajar secara kualitatif dan nilainya dalam bentuk kategori saja. Tidak ada nilai eksak atau urutan peringkat.
Jadi saat anak kami yang membandingkan rapor, maka kami justru menghentikannya. Saya hanya bilang, "yang penting rapor kamu bilang kalau kamu lebih baik dari semester sebelumnya dan kamu tahu apa yang harus diubah. Bapak akan bantu". Sudah cukup itu saja. Tidak perlu tanya-tanya angka kawannya.
Kami sebagai orang tua makin yakin dengan sikap kami, ketika lahir anak kedua yang berkebutuhan khusus. Kami belajar banyak, lebih tepatnya belajar lagi, tentang konsep bahagia dari anak kedua kami itu.
Jadi ya begitulah. Sebuah kilas balik saja dari suatu fragmen waktu dalam kehidupan saya dulu. Bukan untuk pamer. Apanya juga yang dipamerkan wong ceritanya tentang kegagalan semua kok.
Berhenti membandingkan rapor anak anda.
Berhenti membandingkan peringkat perguruan tinggi anda.