
Berikut ini beberapa hasil ngobrol dengan Steven (Steven Reinaldo Rusli) tanggal 9 Maret 2024 lalu. Ia baru lulus doktor dari Universitas Wageningen Belanda. Judul disertasinya adalah Deepening The Quantitative Understanding of Groundwater Systems in Data-Scarce Areas. Application in the Bandung Groundwater Basin, Indonesia.
Steven cerita kalau grup riset tempat ia bekerja, terdiri dari peneliti dengan kepakaran yang beragam, lulusan dari prodi S1, S2, dan S3 yang tidak linear.
Steven juga bilang kalau nama grup bisa berubah-ubah. “Sangat dinamis dan fleksibel”, ujarnya.
<aside> 💡 Catatan pinggir: Fleksibilitas dalam penamaan dan keragaman dalam kelompok penelitian Amerika dan Eropa dapat diatribusikan ke beberapa faktor:
</aside>
Bagian ini juga menarik. Steven bilang kalau proses pengerjaan riset doktoralnya tidak berurutan. Yang dapat diselesaikannya lebih dulu, akan dikerjakannya duluan, dibanding yang masih menunggu tahapan lain.
Data-data sekunder dapat diolahnya lebih awal, sebelum datang ke Bandung untuk mengambil data lapangan.
Setiap bab dalam disertasinya merupakan makalah peer-reviewed yang sifatnya bisa berdiri sendiri, yang kemudian baru dihubungkan dalam buku disertasinya.
Prinsipnya bahwa suatu riset perlu (bahkan harus) dapat dikerjakan secara non-sekuensial, tidak berurutan, sangatlah penting. Kenapa? Karena data sering tidak datang sesuai rencana. Hal lainnya adalah bahwa kita mudah bosan (ini sifat alamiah manusia).
Jadi kalau sedang bosan coding, maka kita bisa mengutak-atik citra satelit. Saat jemu melihat citra satelit, kita bisa membuka-buka foto pengambilan data lapangan dan membuat sketsa bentang alamnya, misalnya.
Buatlah riset menjadi “playful” atau seperti main-main. Ini bukan gamifikasi ya (istilah yang lebih dulu populer), tetap membuat mengerjakan riset seperti sedang bermain-masin di taman bermain. Intinya jangan sampai bosan mengerjakan risetnya. Kalau sudah bosan bisa gawat.
Berikut ini adalah Instagram Reel yang saya buat saat mencatat hasil obrolan dengan Steven.