Untitled

Berikut ini beberapa hasil ngobrol dengan Steven (Steven Reinaldo Rusli) tanggal 9 Maret 2024 lalu. Ia baru lulus doktor dari Universitas Wageningen Belanda. Judul disertasinya adalah Deepening The Quantitative Understanding of Groundwater Systems in Data-Scarce Areas. Application in the Bandung Groundwater Basin, Indonesia.

Grup peneliti yang dinamis dan fleksibel

Steven cerita kalau grup riset tempat ia bekerja, terdiri dari peneliti dengan kepakaran yang beragam, lulusan dari prodi S1, S2, dan S3 yang tidak linear.

Steven juga bilang kalau nama grup bisa berubah-ubah. “Sangat dinamis dan fleksibel”, ujarnya.

<aside> 💡 Catatan pinggir: Fleksibilitas dalam penamaan dan keragaman dalam kelompok penelitian Amerika dan Eropa dapat diatribusikan ke beberapa faktor:

</aside>

  1. Multikulturalisme: Misalnya, Amerika Serikat adalah masyarakat multikultural dengan individu dari berbagai ras, latar belakang linguistik, dan afiliasi agama. Keragaman ini tercermin dalam praktik penamaan kelompok penelitian, yang sering bertujuan untuk mewakili sifat multikultural masyarakat.
  2. Pendekatan Interdisipliner: Penelitian ilmiah modern sering membutuhkan pendekatan interdisipliner, di mana peneliti dari berbagai bidang berkolaborasi untuk mengatasi masalah yang kompleks. Keragaman ini dalam bidang penelitian tercermin dalam komposisi kelompok penelitian.
  3. Promosi Keragaman: Banyak organisasi penelitian secara aktif mempromosikan keragaman dan melawan diskriminasi. Mereka mengakui bahwa tim yang beragam dapat membawa berbagai perspektif, yang dapat mengarah pada solusi inovatif dan kemajuan dalam penelitian.
  4. Fleksibilitas dalam Struktur Organisasi: Organisasi penelitian sering memiliki struktur yang fleksibel yang memungkinkan integrasi peneliti dari berbagai bidang. Fleksibilitas ini juga dapat diperluas ke penamaan kelompok, mencerminkan sifat kerja mereka yang beragam dan dinamis.

Perlakukan disertasi sebagai puzzle

Bagian ini juga menarik. Steven bilang kalau proses pengerjaan riset doktoralnya tidak berurutan. Yang dapat diselesaikannya lebih dulu, akan dikerjakannya duluan, dibanding yang masih menunggu tahapan lain.

Data-data sekunder dapat diolahnya lebih awal, sebelum datang ke Bandung untuk mengambil data lapangan.

Setiap bab dalam disertasinya merupakan makalah peer-reviewed yang sifatnya bisa berdiri sendiri, yang kemudian baru dihubungkan dalam buku disertasinya.

Prinsipnya bahwa suatu riset perlu (bahkan harus) dapat dikerjakan secara non-sekuensial, tidak berurutan, sangatlah penting. Kenapa? Karena data sering tidak datang sesuai rencana. Hal lainnya adalah bahwa kita mudah bosan (ini sifat alamiah manusia).

Jadi kalau sedang bosan coding, maka kita bisa mengutak-atik citra satelit. Saat jemu melihat citra satelit, kita bisa membuka-buka foto pengambilan data lapangan dan membuat sketsa bentang alamnya, misalnya.

Membuat riset “playful

Buatlah riset menjadi “playful” atau seperti main-main. Ini bukan gamifikasi ya (istilah yang lebih dulu populer), tetap membuat mengerjakan riset seperti sedang bermain-masin di taman bermain. Intinya jangan sampai bosan mengerjakan risetnya. Kalau sudah bosan bisa gawat.

Berikut ini adalah Instagram Reel yang saya buat saat mencatat hasil obrolan dengan Steven.