Tanggal 26 Maret 2024, saya diundang oleh Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB (Institut Pertanian Bogor) untuk memaparkan preprint. Acara tersebut dibuka oleh Direkturnya Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc.
Sebelum membahas preprint, mari kita bahas sedikit tentang metrik akademik yang disebut saat pembukaan acara.
Metrik akademik umumnya mencakup beberapa elemen penting dalam mengukur performa akademik. Berikut adalah beberapa metrik yang sering digunakan:
Namun harus disadari bersama bahwa metrik ini tidak selalu mencerminkan kualitas atau kontribusi nyata dari penelitian seseorang. Sebagai contoh, publikasi dalam jurnal dengan faktor dampak yang tinggi tidak selalu berarti bahwa penelitian tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Selain itu, metrik seperti jumlah sitasi dan H-index dapat dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti popularitas subjek dan ukuran komunitas peneliti yang fokus pada subjek tersebut.
Berbagai jenis metrik akademik (daftar lebih lengkap)
Tentu, dari sekian banyak metrik akademik, tidak ada yang sempurna. Setiap metrik memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri, dan mungkin relevan dalam konteks tertentu tetapi tidak dalam yang lain. Misalnya, jumlah sitasi mungkin mengukur sejauh mana penelitian digunakan oleh peneliti lain, tetapi tidak mengukur kualitas penelitian itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi peneliti dan institusi untuk tidak terlalu bergantung pada metrik tunggal, tetapi melihat berbagai metrik dan juga mempertimbangkan kualitas dan dampak penelitian secara keseluruhan.

Memang ada risiko bahwa metrik praktikal bisa menyebabkan distorsi dalam pembuatan kebijakan perguruan tinggi. Misalnya, jika perguruan tinggi terlalu fokus pada peningkatan jumlah sitasi, mereka mungkin mengabaikan bidang penelitian yang penting tetapi kurang populer yang mungkin tidak menghasilkan banyak sitasi. Selain itu, mereka mungkin juga tergoda untuk "bermain" dengan sistem dengan mendorong publikasi yang dirancang untuk menarik sitasi daripada benar-benar berkontribusi pada kemajuan pengetahuan. Oleh karena itu, penting bagi perguruan tinggi untuk menggunakan metrik yang seimbang dan mempertimbangkan berbagai aspek kinerja penelitian, bukan hanya jumlah sitasi.
Jika perguruan tinggi dan pendidikan tinggi secara umum terlalu terfokus pada metrik akademik, ada risiko besar terjadinya distorsi dalam kebijakan mereka. Metrik akademik seperti jumlah sitasi, H-index, jumlah publikasi, dan faktor dampak jurnal, sementara berguna, berpotensi mendorong perilaku yang tidak sehat dalam komunitas akademik jika digunakan sebagai satu-satunya penilaian kinerja.
Misalnya, jika perguruan tinggi terlalu mementingkan jumlah sitasi, ini bisa mendorong peneliti untuk memilih topik penelitian yang populer dan cenderung mendapatkan banyak sitasi, alih-alih mengejar bidang penelitian yang penting tetapi kurang populer. Hal ini dapat mengarah pada penelitian yang kurang beragam dan kurang inovatif. Selain itu, penekanan yang berlebihan pada sitasi juga bisa mendorong praktik seperti self-citation atau publikasi yang dirancang untuk menarik sitasi, alih-alih berkontribusi pada kemajuan pengetahuan.